Dapatkan penawaran menarik sekarang
Sitespirit
Sitespirit

Wireframe: Pengertian, Contoh, Tools, dan Cara Membuatnya

Muhammad Robith Adani Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Diperbarui: 9 menit baca

Jawaban Singkat

Wireframe adalah kerangka visual halaman website atau aplikasi yang menggambarkan tata letak, struktur, dan fitur sebelum desain visual dan pengodean dimulai.

  • Wireframe terbagi tiga tingkat detail: low-fidelity berupa sketsa kasar, mid-fidelity dengan tata letak lebih akurat, dan high-fidelity yang sudah menggambarkan fitur serta elemen produk.
  • Wireframe berbeda dari mockup dan prototype: wireframe fokus pada struktur, mockup menambahkan warna dan tipografi, sedangkan prototype sudah interaktif sehingga alur penggunaannya bisa diuji.

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Didukung 3 sumber

Daftar Isi
  1. Apa itu Wireframe?
  2. Fungsi Wireframe
    1. 1. Menyederhanakan Proses Desain Web
    2. 2. Membantu dalam Proses Visualisasi Struktur dan Tata Letak Web
    3. 3. Membantu Pembagian Tugas Tim Desain
    4. 4. Mengoptimalkan Efisiensi dalam Proses Pengembangan Website
  3. Manfaat Wireframe
    1. 1. Menghemat Biaya Pengembangan Aplikasi atau Website
    2. 2. Pembuatan Produk Menjadi Lebih Terstruktur
    3. 3. Memberikan Gambaran Produk yang Lebih Jelas
  4. Komponen Wireframe
    1. 1. Layout Utama
    2. 2. Navigasi
    3. 3. Tampilan Antarmuka (UI)
    4. 4. Konten
    5. 5. Informasi Tambahan
  5. Tipe-Tipe Wireframe
    1. 1. Low-Fidelity
    2. 2. Mid-Fidelity
    3. 3. High-Fidelity
  6. 7 Tools untuk Membuat Wireframe
  7. Cara Membuat Wireframe yang Menarik
    1. 1. Melakukan Riset dan Analisis Kebutuhan Proyek
    2. 2. Mempersiapkan Kebutuhan Tools Pendukung
    3. 3. Menentukan Tingkat Detail Wireframe
    4. 4. Melakukan Konfigurasi Layout
    5. 5. Menambahkan Elemen Konten dan Data Pendukung Lainnya
    6. 6. Menguji dan Merevisi Wireframe
  8. Tips Membuat Wireframe yang Efektif
  9. Contoh Wireframe
  10. Perbedaan Wireframe, MockUp, dan Prototype

Dalam merancang desain tampilan suatu produk aplikasi web maupun mobile, Anda membutuhkan sebuah konsep awal desain yang baik. Berkaitan dengan hal ini, Anda bisa menggunakan wireframe.

Lantas, apa itu wireframe? Dan seberapa penting penggunaannya? Sitespirit akan membahas lebih dalam mengenai definisi umum, komponen, tipe, manfaat, dan cara membuat wireframe.

Selain itu, kami juga akan memberikan beberapa rekomendasi tools yang cocok untuk kebutuhan pengembangan produk aplikasi Anda. Yuk, simak!

Apa itu Wireframe?

Wireframe adalah sebuah perancangan desain aplikasi atau website secara terstruktur. Wireframe juga dapat diartikan sebagai kerangka gambar yang berisi informasi mengenai struktur halaman, fitur, user flow, fungsionalitas, serta arsitektur dari produk.

Lebih lanjut, wireframe bisa Anda gunakan untuk menjelaskan proses pengembangan produk sebelum benar-benar terimplementasi secara nyata kepada stakeholder.

Untuk pembuatan wireframing sendiri, Anda bisa menggunakan bantuan alat tulis sederhana maupun tools berbasis software.

Fungsi Wireframe

Tidak hanya berfungsi untuk mempermudah proses desain, wireframe memiliki beberapa fungsi lain, di antaranya:

1. Menyederhanakan Proses Desain Web

Kerangka ini membantu desainer dalam mengorganisir beberapa elemen penting, salah satunya konten.

Lebih lanjut, kerangka ini membantu desainer dalam menentukan tata letak konten yang efisien dengan menghilangkan elemen yang tidak penting.

Kerangka ini juga berperan dalam proses identifikasi kesalahan ataupun kekurangan pada desain sebelum membuat website.

2. Membantu dalam Proses Visualisasi Struktur dan Tata Letak Web

Kerangka ini berperan dalam mengatur komponen-komponen website, sehingga memberikan user experience yang lebih optimal.

Dengan menggunakan kerangka ini, alur dan interaksi antara halaman-halaman pada website jadi lebih mulus.

3. Membantu Pembagian Tugas Tim Desain

Kerangka membantu memvisualisasikan ide-ide secara lebih gamblang. Setiap anggota tim dapat melihat kerangka serta memahami tugas masing-masing dengan baik, sehingga tim bisa lebih fokus mengerjakan setiap task-nya.

4. Mengoptimalkan Efisiensi dalam Proses Pengembangan Website

Penggunaan kerangka dapat meminimalisir kesalahan saat proses developing. Developer dapat memanfaatkan kerangka ini untuk melakukan pengaturan terhadap tata letak dan fitur-fitur sebelum proses coding.

Manfaat Wireframe

Terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari adanya wireframing, beberapa di antaranya yaitu:

1. Menghemat Biaya Pengembangan Aplikasi atau Website

Keuntungan yang pertama, Anda dapat mengurangi budget untuk proyek pengembangan software atau website.

2. Pembuatan Produk Menjadi Lebih Terstruktur

Pengembangan produk menjadi lebih tersistem dan terencana dengan baik, sehingga dapat meminimalisir terjadi miss communication antar tiap stakeholders.

Selain itu, pembagian tugas antar tim proyek menjadi lebih terarah dan berkesinambungan.

3. Memberikan Gambaran Produk yang Lebih Jelas

Wireframing memberikan gambaran produk secara jelas dan membuatnya mudah untuk diujicobakan kepada klien.

Hal ini dapat meningkatkan performa dari sisi pengalaman pengguna atau User Experience (UX)-nya.

Komponen Wireframe

Terdapat beberapa komponen pokok untuk membuat sebuah wireframe menjadi lengkap dan mudah dipahami, antara lain:

1. Layout Utama

Komponen yang pertama adalah susunan layout yang berisi berbagai elemen, seperti header, body, footer, navigasi, sidebar, dan lainnya.

Tujuan utama dari layouting adalah mengatur tata letak halaman aplikasi atau website agar selaras dan sesuai dengan kebutuhan customer.

2. Navigasi

Komponen kedua adalah navigasi. Komponen ini digunakan untuk mengarahkan audiens agar mereka mau menjelajahi setiap menu dan fitur aplikasi secara mudah dan efisien.

Biasanya, desain navigasi dapat berupa icon penunjuk, simbol, dan tombol navigasi yang lainnya.

3. Tampilan Antarmuka (UI)

Komponen yang ketiga, yaitu User Interface (UI). Komponen ini berfungsi sebagai penghubung antara tampilan aplikasi atau website dengan pengguna.

Biasanya, pembuatan UI membutuhkan elemen penunjang seperti button, link, logo, breadcrumbs, dan fitur yang lainnya.

4. Konten

Konten adalah komponen wireframe yang sangat penting untuk menarik engagement dari pengguna produk.

Komponen konten bisa berisikan paragraf, input text, thumbnail, link, dan lain sebagainya. Pastikan untuk meletakkan konten pada posisi yang mudah terlihat dan terbaca oleh user.

5. Informasi Tambahan

Komponen yang terakhir adalah informasi tambahan. Umumnya, komponen ini digunakan dalam beberapa proyek khusus, seperti penambahan fitur form dan cek konfirmasi pesanan pada produk berbasis e-commerce.

Tipe-Tipe Wireframe

Dalam konteks pengembangannya, wireframe sendiri terbagi menjadi 3 tipe utama, yaitu low-fidelity, mid-fidelity dan high-fidelity. Berikut penjelasannya:

1. Low-Fidelity

Low-fidelity wireframe adalah sketsa desain yang paling sederhana dan biasanya masih berupa bentuk kasar.

Tipe ini dibuat tanpa menggunakan skala, kisi, maupun akurasi dari pixel yang jelas. Dengan bermodalkan selembar kertas dan pensil saja, Anda dapat membuat sebuah tampilan desain low-fidelity.

2. Mid-Fidelity

Mid-fidelity wireframe adalah jenis yang banyak digunakan karena mampu merepresentasikan tampilan layout yang lebih akurat.

Pada tipe ini, sudah dapat terlihat lebih jelas perbedaan dari setiap kontennya. Pada umumnya, banyak desainer yang menggunakan bantuan software untuk dapat membuat wireframing yang lebih cepat dan efektif.

3. High-Fidelity

Terakhir, High-fidelity wireframe adalah jenis wireframing yang lebih spesifik dan powerful. Dalam tipe ini, wireframing yang dibuat sudah bisa menggambarkan berbagai fitur dan elemen yang ada pada produk.

7 Tools untuk Membuat Wireframe

ilustrasi wireframe

Ilustrasi Wireframe (from Unsplash)

Berikut merupakan beberapa rekomendasi tools untuk pembuatan wireframe, yaitu:

  • Adobe XD: Software desain dari Adobe yang dulu populer untuk membuat wireframe. Sejak 2023, Adobe XD berstatus maintenance mode (tidak lagi dikembangkan aktif), sehingga Figma lebih disarankan untuk proyek baru
  • Figma: Tool desain berbasis cloud yang dapat digunakan untuk pembuatan wireframe dan melakukan real-time collaboration
  • Balsamiq: Tool dengan User Interface (UI) sederhana dan memiliki simbol serta template
  • Whimsical: Ruang kerja visual untuk membuat wireframe, flowchart, dan mind map secara kolaboratif
  • Sketch: Software desain vektor yang dilengkapi plugin dan tool yang memungkinkan pembuatan kerangka dengan cepat
  • MockFlow: Perangkat lunak yang memiliki fitur wireframe dan prototyping yang bisa membuat kerangka dengan detail dan interaktif
  • Axure RP: Tools prototype interactive dengan bermacam fitur yang memungkinkan pembuatan wireframe secara detail dan interaktif

Cara Membuat Wireframe yang Menarik

Setidaknya, terdapat enam tahapan yang perlu Anda lalui ketika membuat wireframe. Apa saja? Berikut penjelasannya.

1. Melakukan Riset dan Analisis Kebutuhan Proyek

Pertama, sebelum masuk pada tahap pembuatan wireframe, Anda harus melakukan riset terlebih dahulu.

Tahapan ini ditujukan untuk mengumpulkan informasi agar Anda mendapatkan data pendukung yang komprehensif untuk kebutuhan proyek customer.

Mulailah dengan merumuskan tujuan halaman dan apa yang harus dicapai pengguna di dalamnya, misalnya mendaftar akun atau menemukan produk. Setelah itu, pelajari karakter audiens, pola UX yang sudah umum mereka kenal, serta tampilan website atau aplikasi kompetitor sebagai bahan perbandingan.

2. Mempersiapkan Kebutuhan Tools Pendukung

Kedua, Anda perlu mempersiapkan tools tambahan untuk membuat rancangan desain seperti Figma, Balsamiq, Whimsical, dan lainnya.

Tools tersebut dapat memudahkan dan mempercepat pekerjaan tim desain dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

3. Menentukan Tingkat Detail Wireframe

Ketiga, tentukan tipe wireframe yang akan dibuat. Untuk menuangkan ide awal, low-fidelity berupa sketsa tangan sudah cukup. Jika rancangan perlu dipresentasikan kepada klien atau diteruskan ke developer, gunakan mid-fidelity atau high-fidelity yang dibuat dengan software.

4. Melakukan Konfigurasi Layout

Keempat, setelah mempersiapkan tools dan mengumpulkan informasi penting, mulailah dari layout dasar, yaitu posisi header, area konten, dan footer. Setelah itu, tambahkan elemen lain seperti tombol, gambar, dan blok teks. Pastikan setiap elemen memiliki fungsi yang jelas.

cara membuat wireframe

(Foto: Pexels)

5. Menambahkan Elemen Konten dan Data Pendukung Lainnya

Selanjutnya, Anda dapat menambahkan beberapa informasi penting berupa teks, gambar, atau link sesuai dengan fitur dan menu yang ditampilkan.

Untuk saat ini, proses pembuatan website juga menyesuaikan dengan tampilan desain yang SEO friendly. Hal tersebut bertujuan agar produk yang dibuat lebih mudah ditemukan melalui pencarian organik.

6. Menguji dan Merevisi Wireframe

Terakhir, uji wireframe bersama tim, klien, atau calon pengguna. Telusuri alur utama halaman, catat bagian yang membingungkan, lalu revisi. Revisi di tahap ini jauh lebih mudah dibandingkan mengubah desain yang sudah masuk proses coding.

Tips Membuat Wireframe yang Efektif

Agar wireframe mudah dipahami dan benar-benar membantu proses desain, perhatikan beberapa tips berikut:

  • Tetap sederhana: gunakan warna abu-abu, kotak, dan garis. Warna, foto, dan tipografi final adalah urusan tahap mockup.
  • Gunakan sistem grid: grid membuat jarak dan perataan elemen konsisten di setiap halaman.
  • Perhatikan hierarki dan posisi elemen: elemen terpenting, seperti judul dan tombol utama, harus mudah ditemukan dan tidak terlalu kecil.
  • Jaga konsistensi: komponen yang sama, misalnya navigasi dan tombol, sebaiknya tampil dengan bentuk yang sama di semua halaman.
  • Gunakan ikon dan label yang jelas: simbol umum seperti ikon pencarian atau keranjang membantu orang lain memahami fungsi elemen dengan cepat.
  • Kumpulkan masukan sejak awal: tunjukkan wireframe kepada pengguna atau klien dan anggap revisi sebagai bagian normal dari proses.

contoh cara membuat wireframe dengan grid

Memanfaatkan Grid System (Sumber: TechforID)

Contoh Wireframe

Berikut ini adalah contoh wireframe yang dibuat menggunakan software Axure RP:

contoh wireframe menggunakan software axure

Contoh wireframe. Sumber: Revou

Perbedaan Wireframe, MockUp, dan Prototype

Bagi Anda yang baru menekuni dunia desain, mungkin bingung apa bedanya wireframe, mockup, dan prototype? Tak dapat dipungkiri, ketiga hal tersebut memang memiliki konsep dasar dan fungsi yang mirip.

Meski demikian, wireframe, mockup, dan prototype adalah tiga hal yang berbeda. Nah, agar Anda lebih paham, berikut penjelasannya.

AspekWireframeMockUpPrototype
Konsep DasarRepresentasi visual yang sangat sederhana dari tata letak elemen-elemen utama dalam suatu desainMockup adalah presentasi visual yang lebih lengkap daripada wireframe, dengan fokus pada desain visual dan tampilan yang lebih nyataPrototype adalah model yang lebih lanjut yang mencoba mensimulasikan pengalaman pengguna sebenarnya, termasuk interaksi dan fungsi
FokusLebih berfokus pada struktur, hierarki, dan pengaturan elemen-elemen di dalam tata letak tanpa detail visual yang mendalamMenunjukkan desain visual yang lebih mendalam, termasuk warna, tipografi, dan elemen grafisMenyajikan interaksi antara elemen-elemen desain dan fungsionalitas dalam desain
TampilanUmumnya hanya menggunakan garis dan bentuk dasar untuk merepresentasikan area dan posisi elemenMenggunakan elemen visual seperti gambar, warna, dan jenis huruf untuk merepresentasikan desain dengan lebih akuratLebih mendetail daripada mockup, dengan elemen-elemen visual dan interaktivitas yang dapat diuji
InteraktivitasTidak ada interaktivitas; hanya menyajikan “kerangka” dari desainBiasanya tidak memiliki interaktivitas atau fungsionalitas yang berfungsiMemiliki interaktivitas yang berfungsi, sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan elemen-elemen desain
TujuanDigunakan untuk menggambarkan konsep dasar, alur, dan pengaturan tata letak kepada anggota tim dan klienDigunakan untuk memberikan gambaran visual yang lebih akurat kepada tim desain dan klien, tetapi tidak berfokus pada interaksiDigunakan untuk menguji konsep interaksi, alur pengguna, dan fungsi desain sebelum pengembangan penuh dilakukan

Itu dia penjelasan lengkap tentang apa itu wireframe beserta fungsi, manfaat, contoh, komponen, dan cara membuatnya.

Untuk membuat tampilan wireframe yang menarik, Anda harus mempelajari disiplin ilmu terkait desain UI/UX, serta memiliki basic knowledge mengenai proses pembuatan desain perangkat lunak yang optimal.

Memang, membuat wireframe agar menghasilkan desain yang menarik dan interaktif bukanlah hal yang mudah. Di sinilah jasa desain website dari Sitespirit hadir untuk membantu Anda.

Sitespirit menyediakan jasa desain website yang interaktif, responsif, dan intuitif. Kami juga menyediakan fitur eksklusif yang memungkinkan Anda untuk mengajukan request sesuai kebutuhan.

Anda tak perlu ragu dengan kualitas yang kami hasilkan, karena desain situs web di Sitespirit ditangani oleh tim yang profesional. Jika tertarik, hubungi kami dengan menuju laman kontak sekarang juga!

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Bagaimana cara membuat wireframe untuk pemula?

Mulailah dengan riset kebutuhan dan tujuan halaman, lalu pilih tingkat detail dan tools. Susun layout dasar (header, konten, footer), tambahkan elemen konten, kemudian uji dan revisi bersama tim, klien, atau calon pengguna.

Apa saja komponen utama dalam wireframe aplikasi?

Komponennya adalah layout utama (header, body, footer, sidebar), navigasi, tampilan antarmuka (UI), konten, dan informasi tambahan seperti form atau cek konfirmasi pesanan pada produk e-commerce.

Tools apa yang bisa dipakai untuk membuat wireframe?

Tools yang umum dipakai antara lain Figma, Balsamiq, Whimsical, Sketch, MockFlow, dan Axure RP. Untuk ide awal, sketsa dengan kertas dan pensil juga cukup. Adobe XD kini berstatus maintenance mode sehingga tidak disarankan untuk proyek baru.

Apakah wireframe sama dengan mockup dan prototype?

Tidak, ketiganya berbeda. Wireframe menggambarkan struktur dan tata letak dengan garis dan bentuk dasar, mockup menambahkan warna dan tipografi, sedangkan prototype sudah interaktif sehingga alur penggunaannya bisa diuji.

Referensi

  1. Nielsen Norman Group (2024). UX Deliverables: Glossary
  2. Nielsen Norman Group (2021). How to Draw a Wireframe (Even if You Can't Draw)
  3. Nielsen Norman Group (2016). UX Prototypes: Low Fidelity vs. High Fidelity

Layanan Sitespirit yang Berkaitan

Punya pertanyaan tentang topik ini? Chat WhatsApp atau isi formulir konsultasi.

Muhammad Robith Adani

Ditulis oleh

Muhammad Robith Adani

SEO & Content Specialist

SEO Specialist at Sitespirit, interested in programming, data, writer, SEO, and website optimization.

LinkedIn →

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani, SEO & Content Specialist pada

Informasi Terkait

ARTIKEL LAINNYA

Ikuti Update Informasi dari Sitespirit!

Cantumkan email Anda untuk mendapatkan informasi penawaran terbaik, update berita dan artikel, serta portofolio dari Sitespirit.