Dapatkan penawaran menarik sekarang
Sitespirit
Sitespirit

Apa itu Prototype? Ini Pengertian, Manfaat, dan 4 Contohnya!

Muhammad Robith Adani Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Diperbarui: 7 menit baca

Jawaban Singkat

Prototype adalah model awal atau purwarupa sebuah produk yang dibuat untuk diuji dan dievaluasi sebelum produk akhir dikembangkan dan dirilis.

  • Prototype membantu mengetahui kebutuhan pengguna lebih awal, menghemat biaya pengembangan, memberi gambaran produk yang konkret, dan memudahkan presentasi ide.
  • Dalam UI/UX, prototype bisa berupa sketsa, wireframe, atau mockup, dengan tingkat kedetailan mulai dari low fidelity hingga high fidelity.

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Didukung 3 sumber

Daftar Isi
  1. Apa itu Prototype?
  2. Tujuan Prototype
  3. Manfaat Prototype
    1. 1. Mengetahui Kebutuhan Pengguna Lebih Awal
    2. 2. Menghemat Biaya Pengembangan Produk
    3. 3. Mendapatkan Gambaran secara Lebih Konkret
    4. 4. Memudahkan Presentasi Produk
    5. 5. Menampung Keinginan Pengguna
  4. Jenis Prototype pada UI/UX Design
    1. 1. Sketch
    2. 2. Wireframe
    3. 3. Mockup
  5. Tahapan Metode Prototype
  6. Contoh Prototype
    1. 1. Kertas
    2. 2. Model Low Fidelity
    3. 3. Model High Fidelity
    4. 4. Menggunakan HTML

Pernahkah Anda mendengar tentang istilah prototype? Pengembangan produk perangkat lunak saat ini mengalami perkembangan dari sisi tampilan dan fokus pada pengalaman pengguna atau UI/UX Design.

Singkatnya, prototype (dalam bahasa Indonesia disebut prototipe atau purwarupa) adalah model awal sebuah produk yang dibuat untuk menguji ide, alur, dan tampilan sebelum produk sebenarnya dikembangkan.

Prototype tidak harus berupa aplikasi jadi; bentuknya bisa berupa sketsa di kertas hingga desain interaktif yang dapat diklik. Tujuannya sama, yaitu mengetahui lebih awal bentuk produk yang sedang dalam proses pengembangan.

Pemahaman mengenai bagaimana proses pembuatan dari sebuah prototype, apa saja metode, dan jenisnya akan dibahas tuntas pada artikel ini. Oleh karena itu, yuk simak sampai habis!

Apa itu Prototype?

Prototype adalah model awal atau simulasi sebuah sistem yang dibuat untuk menguji konsep, alur, dan tampilan sebelum dikembangkan menjadi produk sebenarnya.

Setiap developer ataupun pengguna dapat berinteraksi langsung dengan model tersebut tanpa harus membuat produk nyata.

Sistem ini disesuaikan dengan kebutuhan awal software development. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui beberapa fitur dan fungsi yang telah terdefinisi sebelumnya.

Dengan demikian, pengguna mampu mengetahui kesalahan lebih awal sebelum mengimplementasikan dan merilis produk secara keseluruhan.

Dapat disimpulkan bahwa prototype bukan merupakan produk akhir, tetapi merupakan produk yang bersifat uji coba.

Prototyping dapat mengurangi kesalahan saat pengguna atau user mulai menggunakannya. Selain itu, ada pula istilah prototyping yang bermakna proses pembuatan bentuk awal dari sebuah produk atau jasa.

Tujuan Prototype

Tujuan utama prototyping adalah membuat produk yang sedang dalam proses rilis sesuai dengan permintaan user atau pasar.

Oleh karena itu, peran prototype menjadi penghubung antara produsen dan konsumen untuk dapat mewujudkan produk berupa perangkat lunak yang tepat guna.

Dengan adanya prototype, Anda dapat menghemat biaya produksi karena proses “trial and error” dilakukan pada model awal, bukan pada produk jadi, sehingga dapat mengurangi waktu pengerjaan dan beban biaya pengeluaran oleh tim developer.

Secara lebih rinci, tujuan pembuatan prototype antara lain:

  • Menguji alur dan tampilan produk sebelum masuk tahap coding
  • Mengumpulkan umpan balik dari pengguna dan klien sejak awal
  • Menyamakan persepsi antara klien, desainer, dan developer
  • Menemukan masalah usability ketika biaya perbaikannya masih rendah

Manfaat Prototype

Ada beberapa manfaat dan keuntungan yang bisa didapatkan saat menggunakan sistem ini. Berikut adalah manfaatnya:

1. Mengetahui Kebutuhan Pengguna Lebih Awal

Tim developer dan desainer mampu mengetahui prioritas kebutuhan dari user agar menciptakan produk yang lebih sesuai.

Oleh karena itu, proses pengembangan menjadi lebih cepat dan sesuai dengan deadline yang telah ditentukan.

2. Menghemat Biaya Pengembangan Produk

Salah satu keuntungan lain dari penggunaan skema rancangan ini adalah dapat menghemat dan mengurangi biaya pengembangan seminimal mungkin, sehingga alokasi pendanaan dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain.

3. Mendapatkan Gambaran secara Lebih Konkret

Dengan adanya prototype, maka Anda dapat memberikan gambaran yang lebih nyata dan konkret dengan membuat tampilan sketsa, baik secara low atau high-fidelity.

4. Memudahkan Presentasi Produk

Dengan menggunakan prototype, developer mampu memahami alur atau desain dari tampilan yang akan dibuat dengan lebih tepat, sehingga penggambaran ide produk mudah untuk dipahami dan tidak hanya bermodal teori saja.

5. Menampung Keinginan Pengguna

Pengembang aplikasi sangat terbuka untuk menerima berbagai masukan dari klien atau pengguna produk terkait dengan hasil prototype yang telah dibuat.

Pendapat atau masukan dari pengguna sistem dapat memunculkan gagasan lain untuk menambahkan fitur baru di masa mendatang.

Hal tersebut sangat berguna untuk menilai kelayakan sebuah fitur dan fungsionalitas produk yang akan dirilis.

Jenis Prototype pada UI/UX Design

Dalam proses desain UI/UX, rancangan biasanya berkembang dari bentuk sederhana hingga mendekati produk akhir. Beberapa bentuk rancangan yang sering dikelompokkan sebagai jenis prototype antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sketch

contoh sketsa

Sketsa atau Sketch (Foto: Freepik)

Sketch atau sketsa adalah gambar yang dibuat dengan pensil atau alat tulis lain di atas kertas. Umumnya, sketch digunakan dalam tahap pembuatan desain awal untuk perancangan suatu produk.

Fungsi dari sketsa adalah untuk mengidentifikasi kekurangan dari desain yang dapat menyebabkan masalah dari sisi experience pengguna.

Sketch juga termasuk ke dalam contoh model low-fidelity, karena desainer dapat merekayasa ulang proyek desain secara cepat.

2. Wireframe

contoh metode wireframe

Metode wireframe (Foto: Freepik)

Wireframe adalah sebuah konsep yang fokus pada penyusunan tata letak desain dengan elemen berupa konten. Sebagian besar model wireframe menggunakan skala berwarna abu-abu dan hitam.

Jenis prototype ini juga termasuk ke dalam low-fidelity karena berfokus pada struktur, bukan detail visual. Wireframe dapat dibuat dengan bantuan tools, seperti Whimsical, Balsamiq, Figma, dan lainnya.

Proses wireframing biasanya berlangsung dalam waktu yang singkat, sehingga tim desainer dapat menerapkannya pada kebutuhan proyek yang ringan.

3. Mockup

contoh mockup

(Foto: Freepik)

Jenis terakhir dari prototype adalah mockup, yaitu desain yang sepenuhnya dibuat berdasarkan kombinasi warna, tata letak, tipografi, dan konten di dalamnya.

Kelebihan dari mockup adalah dapat merepresentasikan produk akhir yang terlihat secara lebih jelas dan tampak nyata.

Proses pembuatan mockup high-fidelity akan memakan waktu lebih lama daripada kedua jenis prototype sebelumnya.

Namun, hasil dari jenis ini lebih spesifik untuk memberikan contoh produk yang mendekati kebutuhan user.

Perlu dicatat, yang membedakan prototype dari mockup adalah interaktivitasnya. Mockup bersifat statis, sedangkan prototype dapat diklik dan dicoba sehingga alur perpindahan antarhalaman bisa diuji layaknya produk sungguhan. Karena itu, mockup sering menjadi bahan dasar sebelum dirangkai menjadi prototype interaktif.

Tahapan Metode Prototype

Setelah mengenal jenis-jenisnya, penting bagi Anda untuk memahami langkah-langkah pada metode prototyping agar memberi kemudahan dalam mengatur sumber daya sebuah purwarupa.

Apa saja tahapan untuk melakukan prototyping? Berikut adalah rincian langkah-langkahnya:

  • Melakukan pengumpulan informasi dan observasi awal
  • Membuat prototype berdasarkan hasil analisa yang diperoleh
  • Melaksanakan proses evaluasi terhadap model yang berhasil dibuat tim desainer
  • Melakukan pengujian (testing) terhadap produk hasil prototyping
  • Melaksanakan pengujian ulang terhadap sistem sebelum masuk pada perilisan model
  • Melakukan uji coba sistem prototyping kepada user dan stakeholders terkait

Contoh Prototype

Berikut ini merupakan beberapa contoh dari pembuatan sistem prototype dalam membangun produk aplikasi, sebagai berikut:

1. Kertas

Contoh prototype menggunakan media kertas

Contoh skema rancangan menggunakan media kertas (Foto: Unsplash)

Paper prototype merupakan contoh model demo produk dengan bantuan media kertas dan alat tulis secara sederhana.

Produk akhir dari desain tersebut bertujuan untuk dapat menyediakan beberapa opsi terkait kekurangan dari sisi tampilan dan fungsi sebuah produk.

2. Model Low Fidelity

Contoh prototype low fidelity

Contoh skema rancangan low fidelity (Foto: Unsplash)

Contoh selanjutnya adalah low fidelity atau konsep rancangan sederhana. Dengan ini, pengguna dapat berinteraksi langsung dengan desain. Namun, tampilannya masih berupa sketsa dengan dominan warna hitam atau abu-abu saja.

Salah satu kelebihan dari low-fi adalah dapat memberikan gambaran terkait jalannya proses interaksi melalui beberapa elemen.

3. Model High Fidelity

Contoh prototype high fidelity

Contoh prototype high fidelity (Foto: Unsplash)

Contoh terakhir adalah desain dengan tampilan visual yang lebih kompleks dan dapat merepresentasikan produk dari sisi User Interface (UI) dengan memadukan pengalaman pengguna yang lebih nyaman dan baik.

Pembuatan prototype high fidelity umumnya dilakukan dengan bantuan tools desain seperti Figma. Adobe XD yang dulu populer kini berstatus maintenance mode (tidak lagi dikembangkan secara aktif sejak 2023), sehingga Figma menjadi pilihan utama untuk proyek baru.

Model high fidelity ini merupakan sebuah contoh dari prototype visual yang biasanya cenderung menitikberatkan pada tampilan seperti bentuk dan warna.

4. Menggunakan HTML

Contoh prototype HTML

Contoh skema rancangan HTML (Foto: Unsplash)

Prototyping menggunakan HTML terbilang cukup rumit, karena sample jenis ini khusus untuk desainer yang memiliki kemampuan dan pemahaman lebih terkait coding dan bahasa pemrograman.

Metode ini tersusun atas HTML dan CSS dasar. Meski membutuhkan kemampuan coding, prototype HTML berjalan langsung di browser sehingga interaksinya paling mendekati produk sebenarnya.

Pada intinya, prototype juga digunakan ketika akan mendesain sebuah website. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan agar website yang dihasilkan sesuai dengan keinginan Anda.

Jika Anda tak mau repot untuk membuat desain yang baik dan responsif dengan berbagai rangkaian proses prototyping, Anda dapat menggunakan Jasa Desain Website dan Pembuatan Website dari Sitespirit untuk membantu pembuatan website Anda. Dapatkan info lengkap dengan melakukan kontak dengan kami, Let’s Get Started!

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan prototype low fidelity dan high fidelity?

Prototype low fidelity berupa sketsa atau wireframe sederhana yang cepat dibuat dan mudah diubah, sedangkan high fidelity tampil mendekati produk akhir lengkap dengan warna, tipografi, dan interaksi.

Apa itu paper prototype?

Paper prototype adalah prototype sederhana yang dibuat dengan kertas dan alat tulis untuk menguji tampilan dan alur produk sejak awal. Metode ini cepat dibuat, sehingga cocok untuk mengumpulkan masukan pengguna sebelum coding.

Tools apa yang bisa dipakai untuk membuat prototype?

Prototype bisa dibuat di atas kertas, dengan tools wireframing seperti Whimsical dan Balsamiq, atau dengan tools desain seperti Figma untuk prototype high fidelity. Bagi yang memahami coding, prototype juga bisa dibangun dengan HTML.

Apa saja tahapan membuat prototype?

Tahapannya dimulai dari pengumpulan informasi, pembuatan prototype berdasarkan hasil analisis, evaluasi, pengujian dan pengujian ulang, hingga uji coba kepada pengguna dan stakeholder sebelum produk dirilis.

Apakah prototype sama dengan produk akhir?

Tidak. Prototype bersifat uji coba untuk menemukan kesalahan dan menampung masukan pengguna lebih awal, sehingga produk akhir yang dikembangkan lebih sesuai dengan kebutuhan.

Referensi

  1. Nielsen Norman Group (2016). UX Prototypes: Low Fidelity vs. High Fidelity
  2. Nielsen Norman Group (2003). Paper Prototyping: Getting User Data Before You Code
  3. Figma Help Center (2026). Guide to prototyping in Figma

Layanan Sitespirit yang Berkaitan

Punya pertanyaan tentang topik ini? Chat WhatsApp atau isi formulir konsultasi.

Muhammad Robith Adani

Ditulis oleh

Muhammad Robith Adani

SEO & Content Specialist

SEO Specialist at Sitespirit, interested in programming, data, writer, SEO, and website optimization.

LinkedIn →

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani, SEO & Content Specialist pada

Informasi Terkait

ARTIKEL LAINNYA

Ikuti Update Informasi dari Sitespirit!

Cantumkan email Anda untuk mendapatkan informasi penawaran terbaik, update berita dan artikel, serta portofolio dari Sitespirit.