Dapatkan penawaran menarik sekarang
Sitespirit
Sitespirit

Metode Agile: Pengertian, Kelebihan, Kekurangan, dan 6 Tahapan

Jessica Yunanda Bahtiar Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Diperbarui: 9 menit baca

Jawaban Singkat

Metode agile adalah pendekatan manajemen proyek yang memungkinkan tim merespons perubahan kebutuhan dan ketidakpastian pelanggan melalui pekerjaan yang bertahap dan berulang.

  • Nilai inti agile mengutamakan individu dan interaksi, software yang berfungsi, kolaborasi dengan klien, serta menanggapi perubahan dibanding sekadar mengikuti rencana.
  • Framework agile yang umum dipakai antara lain Scrum, Extreme Programming (XP), Kanban, Lean, Crystal, DSDM, dan Adaptive Software Development (ASD).

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani Didukung 3 sumber

Daftar Isi
  1. Apa itu Metode Agile?
  2. Tujuan Metode Agile
    1. 1. Bersifat High Value dan Working App System
    2. 2. Bersifat Iterative, Incremental, dan Evolutionary
    3. 3. Efisiensi Biaya dan Pengembangan Berbasis Nilai
    4. 4. Produksi dengan Kualitas Unggul
    5. 5. Fleksibel dan Manajemen Risiko
    6. 6. Kolaborasi
  3. Kelebihan Metode Agile
  4. Kekurangan Metode Agile
  5. 12 Prinsip Metode Agile
  6. Tahapan Metode Agile
    1. 1. Konsep
    2. 2. Pengenalan Awal atau Kebutuhan
    3. 3. Iteration atau Development
    4. 4. Release atau Peluncuran
    5. 5. Maintenance
    6. 6. Retirement Sistem
  7. Nilai Metode Agile
    1. 1. Individu dan Interaksi Menjadi Hal yang Paling Penting
    2. 2. Keberfungsian Software Lebih Penting daripada Kelengkapan Dokumen
    3. 3. Tercapainya Kolaborasi yang Baik dengan Klien Lebih Penting daripada Negosiasi Kontrak
    4. 4. Menanggapi Perubahan Lebih Penting daripada Mengikuti Rencana
  8. Framework Metode Agile
    1. 1. Scrum
    2. 2. Extreme Programming (XP)
    3. 3. Kanban
    4. 4. Lean
    5. 5. Crystal
    6. 6. Dynamic Systems Development Method (DSDM)
    7. 7. Adaptive Software Development (ASD)

Di dunia software development, metode agile sudah menjadi istilah yang sangat umum, terutama bagi Anda yang tertarik dengan agile development.

Di era serba digital, banyak bisnis sadar bahwa metode pengembangan tradisional yang kaku sering kali tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar yang berubah cepat.

Karena itu, tim pengembang perlu beradaptasi dan bergerak gesit untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Di sinilah metode agile berperan.

Secara sederhana, agile bertujuan menghadirkan perangkat lunak yang bernilai bagi pengguna secara cepat dan bertahap, dengan cara yang tetap terorganisir.

Apa itu Metode Agile?

Metode agile adalah metode yang mencakup beberapa pendekatan manajemen proyek yang memungkinkan tim merespons perubahan persyaratan dan ketidakpastian pelanggan melalui pekerjaan proyek yang bertahap dan berulang.

Metode agile muncul karena metode pengembangan perangkat lunak yang kaku dan berurutan tidak dapat mengikuti persyaratan dan prioritas yang berubah dengan cepat.

Dengan agile, perangkat lunak tidak dikirim sekaligus di akhir proyek. Pekerjaan dipecah menjadi bagian-bagian kecil yang dapat diselesaikan, diuji, dan diserahkan kepada klien secara bertahap.

Pada intinya, setiap siklus dalam agile mencakup perencanaan, desain, pengembangan, pengujian, dan peninjauan, lalu hasilnya menjadi masukan untuk siklus berikutnya.

Tujuan Metode Agile

Ada beberapa tujuan dari metode Agile antara lain:

1. Bersifat High Value dan Working App System

Dalam pembuatan software sangatlah diperlukan efisiensi biaya. Oleh karenanya, penggunaan metode ini perlu diperhitungkan karena dapat menciptakan software dengan kualitas tinggi.

2. Bersifat Iterative, Incremental, dan Evolutionary

Metode satu ini merupakan opsi untuk proses development software dalam jangka waktu yang pendek.

Dengan penggunaan metode ini diharapkan pengembangan software bisa dilaksanakan secara kontinu.

3. Efisiensi Biaya dan Pengembangan Berbasis Nilai

Proses pengembangan perangkat lunak dengan metode ini dapat menyesuaikan dengan keperluan pengguna sehingga pengeluaran biaya dapat dikontrol seefisien mungkin.

4. Produksi dengan Kualitas Unggul

Meskipun produksi software dengan metode ini menerapkan prinsip efisiensi biaya namun kualitasnya tetap unggul.

5. Fleksibel dan Manajemen Risiko

Pertemuan secara berkala dengan klien bisa diagendakan kapan saja sehingga klien juga bisa memonitor proses pengembangan perangkat lunak.

Hal ini dilakukan guna meminimalisir terjadinya kesalahan dalam proses software development.

6. Kolaborasi

Diperlukan komunikasi yang baik diantara tim pengembang saat proses development sehingga miskomunikasi bisa terhindarkan.

Namun tidak hanya tim pengembang saja, melainkan kolaborasi dengan divisi lain juga perlu dijaga untuk menghasilkan software dengan kualitas unggul.

Kelebihan Metode Agile

Berikut beberapa kelebihan dari metode agile:

  • Efisiensi biaya
  • Fleksibel dan mampu menerima perubahan
  • Prosesnya singkat
  • Workflow yang efisien
  • Memungkinkan pembagian kerja
  • Responsif terhadap kebutuhan klien
  • Membuat kinerja tim lebih maksimal
  • Hasil dengan kualitas tinggi

Kekurangan Metode Agile

Di samping kelebihannya, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:

  • Lebih sulit diterapkan pada tim atau proyek berskala besar tanpa kerangka kerja tambahan
  • Perubahan dapat terjadi kapan saja
  • Cakupan kerja yang berubah-ubah
  • Ketidakpastian berakhirnya proyek

12 Prinsip Metode Agile

Agile Manifesto yang disusun pada 2001 memuat 12 prinsip yang menjadi pegangan agile software development. Berikut ringkasannya:

  1. Memuaskan pelanggan melalui pengiriman perangkat lunak yang bernilai sejak awal dan secara berkelanjutan.
  2. Menyambut perubahan kebutuhan, bahkan di tahap akhir pengembangan, demi keunggulan kompetitif pelanggan.
  3. Mengirimkan perangkat lunak yang berfungsi secara rutin, dalam hitungan minggu hingga bulan, dengan mengutamakan jangka waktu yang lebih pendek.
  4. Pihak bisnis dan pengembang bekerja sama setiap hari sepanjang proyek.
  5. Membangun proyek di sekitar individu yang termotivasi, dengan memberi mereka lingkungan, dukungan, dan kepercayaan yang dibutuhkan.
  6. Mengutamakan komunikasi tatap muka sebagai cara paling efektif menyampaikan informasi di dalam tim.
  7. Perangkat lunak yang berfungsi adalah ukuran utama kemajuan.
  8. Menjaga ritme kerja yang berkelanjutan, sehingga sponsor, pengembang, dan pengguna dapat mempertahankan kecepatan yang konstan dalam jangka panjang.
  9. Memberi perhatian terus-menerus pada keunggulan teknis dan desain yang baik untuk meningkatkan kelincahan.
  10. Kesederhanaan, yaitu memaksimalkan jumlah pekerjaan yang tidak perlu dilakukan, sangat penting.
  11. Tim yang mengatur dirinya sendiri menghasilkan arsitektur, kebutuhan, dan desain terbaik.
  12. Refleksi berkala, yaitu tim secara rutin mengevaluasi cara agar lebih efektif, lalu menyesuaikan cara kerjanya.

Tahapan Metode Agile

1. Konsep

Tahapan pertama dalam siklus hidup pengembangan agile adalah konsep. Pada langkah ini, para pemangku kepentingan akan menentukan tujuan dan cakupan perangkat lunak.

Kemudian, pemilik produk akan menyusun dokumen yang menguraikan kebutuhan penting untuk produk.

Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas ini dan potensi prospek komersial juga akan ditentukan pada tahapan metode agile ini.

Kebutuhan awal sebaiknya dibuat seminimal mungkin karena dapat ditambahkan pada tahap selanjutnya. Ini akan membantu dalam menentukan apakah produk dapat dipraktikkan atau tidak.

2. Pengenalan Awal atau Kebutuhan

Selanjutnya, tahapan metode agile adalah membentuk tim pengembangan perangkat lunak.

Pemilik produk akan memeriksa ketersediaan rekan developers dan memilih seseorang terbaik untuk memastikan keberhasilan proyek.

Pengembang front-end dan back-end terpilih juga akan menerima bahan dan peralatan yang diperlukan dari pemilik produk.

Untuk mengumpulkan semua persyaratan pada diagram dan mengidentifikasi fungsionalitas proyek, pemangku kepentingan kembali terlibat dalam langkah ini.

Selain itu, pemeriksaan rutin akan memudahkan untuk menentukan apakah proses desain telah memperhitungkan semua persyaratan atau tidak.

3. Iteration atau Development

Tahapan metode agile yang selanjutnya adalah pengembangan atau iteration. Karena membawa sebagian besar tenaga kerja, tahapan ini adalah yang terpanjang dari semuanya.

Tim developers sekarang akan mulai menyatukan semua persyaratan produk yang dikumpulkan selama fase membentuk konsep.

Kemudian, sebelum selesai, tim developers akan melewati banyak evaluasi dan perubahan untuk perbaikan.

4. Release atau Peluncuran

Release adalah salah satu tahapan metode agile. Tim jaminan kualitas melakukan pengujian untuk memastikan fungsionalitas perangkat lunak sebelum produk diluncurkan.

Anggota tim akan menguji program untuk memastikan kodenya jelas, dan jika ada potensi masalah atau cacat, tim iteration akan mengambil tindakan cepat untuk memperbaikinya.

Selain itu, tahap ini memungkinkan pembaruan dan peningkatan berkelanjutan berdasarkan umpan balik users.

Pelatihan diberikan kepada pelanggan dan pengguna tentang cara menggunakan perangkat lunak.

Setelah semuanya selesai, produk dimasukkan ke dalam produksi.

5. Maintenance

Tahapan metode agile selanjutnya yaitu fase maintenance atau pemeliharaan. Perangkat lunak sekarang telah digunakan sepenuhnya dan tersedia untuk klien.

Untuk memastikan program berfungsi dengan baik dan bebas bug selama periode ini, tim iteration atau development menawarkan dukungan berkelanjutan kepada klien.

Iteration dapat ditambahkan sepanjang waktu untuk meningkatkan kegunaan dan kenyamanan produk saat ini bagi pelanggan.

6. Retirement Sistem

Terakhir, tahapan metode agile yaitu retirement. Suatu sistem dapat dipensiunkan atau melalui proses retirement karena kegunaannya telah habis atau menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, atau karena perangkat lunak baru telah dirilis.

Penghentian perangkat lunak pertama akan diumumkan kepada pengguna. Pengguna akan dipindahkan ke sistem terbaru saat yang lama diganti.

Nilai Metode Agile

ilustrasi para developer mengembangkan aplikasi dengan metode agile

Ilustrasi para developer mengembangkan aplikasi dengan metode agile (sumber: Unsplash)

Berikut kami uraikan beberapa nilai metode agile:

1. Individu dan Interaksi Menjadi Hal yang Paling Penting

Metode agile menganggap bahwa individu dan interaksi merupakan suatu hal yang jauh lebih penting daripada proses dan tools yang digunakan.

Sebab, proses dan tools tentunya tidak dapat berfungsi dengan baik jika individu yang menjalankan tidak punya kemampuan yang memadai.

Selain itu, interaksi dan proses komunikasi yang baik antar individu juga memungkinkan proses pengembangan dapat berjalan secara efektif dan terhindar dari konflik.

2. Keberfungsian Software Lebih Penting daripada Kelengkapan Dokumen

Tujuan dari agile development yang utama adalah mengembangkan suatu software yang dapat berfungsi dengan baik.

Dengan demikian, keberfungsian software yang berhasil sampai ke konsumen akan memiliki nilai yang lebih penting daripada dokumen tentang deskripsi produk.

3. Tercapainya Kolaborasi yang Baik dengan Klien Lebih Penting daripada Negosiasi Kontrak

Agile benar-benar bergantung pada umpan balik dari klien. Akan tetapi, banyak klien yang tidak memahami dengan baik tentang dunia IT.

Akibatnya, klien pun sulit mengkomunikasikan apa yang sebenarnya mereka inginkan tentang software tersebut.

Jadi, dalam proses pengembangan software, pastikan selalu ikutsertakan klien untuk menghindari pembuatan software yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemauan klien.

4. Menanggapi Perubahan Lebih Penting daripada Mengikuti Rencana

Dalam metode agile, klien atau developer bisa saja tiba-tiba mengajukan permintaan untuk suatu perubahan tentang pengembangan software.

Oleh karena itu, penting untuk selalu bisa beradaptasi untuk menanggapi perubahan yang diinginkan daripada mengikuti rencana yang sebelumnya telah dibuat.

Framework Metode Agile

Berikut ini beberapa framework metode agile yang umum digunakan:

1. Scrum

Scrum adalah salah satu framework agile yang paling populer dalam pengembangan perangkat lunak.

Menurut Scrum Guide 2020, Scrum Team terdiri dari tiga peran: Product Owner, Scrum Master, dan Developers.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dalam waktu singkat.

Scrum menggunakan sprint, yaitu iterasi dengan durasi tetap maksimal satu bulan, yang mencakup perencanaan, pengembangan, review, dan retrospektif.

2. Extreme Programming (XP)

Extreme Programming adalah metode agile yang terfokus pada kualitas perangkat lunak. XP mendorong tim untuk bekerja sama dalam pengkodean, pengujian, dan integrasi.

Metode ini juga mencakup praktik pengembangan seperti pemrograman berpasangan, pengujian otomatis, dan refactoring.

3. Kanban

Kanban adalah metode yang mengatur proses pengembangan perangkat lunak dengan memvisualisasikan aliran kerja pada papan Kanban dan membatasi jumlah pekerjaan yang sedang berjalan (work in progress atau WIP limit) agar alur kerja lancar dan hambatan cepat terlihat.

Metode ini juga mendorong tim untuk mengambil keputusan berdasarkan data yang relevan dan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan proyek.

4. Lean

Lean adalah pendekatan pengembangan perangkat lunak yang menerapkan prinsip-prinsip lean manufacturing.

Metode ini bertujuan untuk meningkatkan nilai yang diberikan oleh proses pengembangan dan mengurangi pemborosan waktu dan sumber daya.

Lean juga mendorong pengembang untuk berfokus pada memberikan nilai kepada pelanggan.

5. Crystal

Crystal adalah metode agile yang terdiri dari sejumlah submetode yang sesuai dengan kebutuhan tim.

Crystal memungkinkan tim untuk menyesuaikan proses pengembangan dengan situasi yang berbeda. Metode ini mengutamakan komunikasi dan kolaborasi dalam tim.

6. Dynamic Systems Development Method (DSDM)

DSDM adalah framework agile yang dalam versi terbarunya (DSDM Agile Project Framework) memiliki 8 prinsip, antara lain fokus pada kebutuhan bisnis, tepat waktu, kolaborasi, tidak mengorbankan kualitas, serta komunikasi yang berkelanjutan dan jelas.

Metode ini juga mencakup sejumlah fase, mulai dari pra-proyek, studi kelayakan, fondasi, pengembangan evolusioner, penerapan (deployment), hingga pasca-proyek.

7. Adaptive Software Development (ASD)

ASD adalah metode agile yang dikembangkan oleh Jim Highsmith dan terdiri dari tiga fase yang terus berulang: speculate (berspekulasi atau merencanakan), collaborate (berkolaborasi), dan learn (belajar).

Metode ini menekankan adaptasi terus-menerus terhadap perubahan, sehingga cocok untuk proyek dengan tingkat ketidakpastian tinggi.

Itulah dia uraian lengkap tentang metode agile, mulai dari pengertian, tujuan, prinsip, hingga nilai dan framework-nya.

Pada intinya, metode agile merupakan suatu cara yang biasanya digunakan dalam proses pengembangan software, seperti aplikasi mobile dan web.

Sitespirit menyediakan layanan Jasa Pembuatan Website yang ditangani oleh profesional di bidangnya. Jika tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut, segera hubungi Sitespirit untuk informasi selengkapnya. Let’s Get Started!

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan metode agile dan waterfall?

Waterfall mengerjakan proyek secara berurutan dari satu fase ke fase berikutnya, sedangkan agile membagi pekerjaan menjadi iterasi pendek sehingga perubahan kebutuhan bisa diakomodasi selama proyek berjalan.

Apa saja tahapan metode agile?

Tahapan metode agile meliputi konsep, pengenalan awal atau kebutuhan, iterasi atau development, release, maintenance, dan retirement sistem.

Apakah Scrum sama dengan agile?

Tidak. Agile adalah pendekatan kerja, sedangkan Scrum adalah salah satu framework untuk menerapkannya, dengan peran Product Owner, Scrum Master, dan Developers serta siklus kerja bernama sprint.

Apa kekurangan metode agile?

Cakupan kerja bisa berubah-ubah, perubahan dapat terjadi kapan saja, dan waktu selesainya proyek sulit dipastikan. Agile juga lebih sulit diterapkan pada tim atau proyek berskala besar tanpa kerangka kerja tambahan.

Apakah metode agile bisa dipakai untuk membuat website?

Bisa. Agile umum dipakai dalam pengembangan aplikasi mobile maupun web karena fitur dapat dirilis bertahap dan disesuaikan dengan umpan balik klien.

Referensi

  1. Agile Manifesto (2001). Manifesto for Agile Software Development
  2. Agile Manifesto (2001). Principles behind the Agile Manifesto
  3. Scrum Guides (Ken Schwaber & Jeff Sutherland) (2020). The 2020 Scrum Guide

Layanan Sitespirit yang Berkaitan

Punya pertanyaan tentang topik ini? Chat WhatsApp atau isi formulir konsultasi.

Jessica Yunanda Bahtiar

Ditulis oleh

Jessica Yunanda Bahtiar

She writes and edits for a variety of businesses across many subjects including business, technology, travel, psychology, linguistics and marketing.

LinkedIn →

Ditinjau oleh Muhammad Robith Adani, SEO & Content Specialist pada

Informasi Terkait

ARTIKEL LAINNYA

Ikuti Update Informasi dari Sitespirit!

Cantumkan email Anda untuk mendapatkan informasi penawaran terbaik, update berita dan artikel, serta portofolio dari Sitespirit.