Apa itu Taksonomi SEO? Ini Penjelasan dan Cara Menyusun yang Efektif

Apakah website Anda memiliki performa SEO yang stagnan meskipun konten terus bertambah? Atau website sulit membangun topical authority? Bisa jadi, masalahnya bukan pada kualitas konten atau optimasi teknis semata, tetapi pada praktik taksonomi SEO yang belum efektif.
DAFTAR ISI

Taksonomi SEO adalah praktik pengelompokan dan pelabelan konten menggunakan kata kunci terukur. Ketika website terus menambah konten tanpa kategori yang jelas atau arah topik konsisten, mesin pencari akan kesulitan membaca pertumbuhan nilai topik.

Akibatnya, tidak ada topik yang cukup kuat untuk membangun dominasi dan otoritas. Untuk mengetahui lebih jauh tentang taksonomi SEO, simak penjelasan berikut.

Apa Itu Taksonomi SEO?

Taksonomi SEO adalah metode pengklasifikasian halaman-halaman konten dalam situs web berdasarkan kesamaannya. Seperti kategori, konsep, tema, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk memudahkan pengunjung dalam menavigasi website dan membantu mesin pencari untuk memahami fokus topik dan konteks konten yang disajikan.

Pengelompokannya bisa dilakukan dalam beberapa cara, seperti struktur URL website, internal link, tag, kata kunci, atau label konten. Misalnya, jika situs web berfokus pada konten edukatif, taksonomi dapat disusun berdasarkan topik utama, lalu dipecah menjadi subtopik dan pembahasan turunan agar setiap halaman saling terhubung secara tematis.

Jenis-Jenis Taksonomi dalam SEO

Jenis-jenis taksonomi dalam SEO merupakan cara pengelompokan halaman-halaman konten yang dapat dilakukan secara hierarkis, faceted, datar, dan hibrida.

1. Taksonomi Hierarkies (Hierarchical Taxonomy)

Taksonomi hierarkis adalah struktur konten yang dikelompokkan berdasarkan kategori dan subkategori. Metode ini memungkinkan konten terstruktur, terhubung satu sama lain, tergambar secara jelas, dan terorganisir. Taksonomi jenis ini cocok untuk situs web besar yang memuat banyak konten dan subkonten.

Misalnya, website e-learning yang menyajikan materi pembelajaran. Maka taksonominya dapat disusun berdasarkan bidang pembelajaran sebagai kategori utama. Kemudian, kategori tersebut dipecah menjadi subkategori, seperti tingkat pembelajaran, topik materi, dan jenis modul.

2. Taksonomi Faceted (Faceted Taxonomy)

Taksonomi faceted adalah pengaturan konten berdasarkan beberapa aspek atau atribut. Pengguna atau pengunjung web dapat menerapkan dan mengatur filter berdasarkan kriteria yang tersedia, seperti harga, ukuran, warna, atau merek.

Misalnya di website Shopee, ketika pengguna memasukkan kueri ‘baju wanita’ akan muncul berbagai produk yang berkaitan dengan kueri. Di bagian bilah kiri, terdapat fitur ‘filter’ dimana pengguna dapat mengaturnya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan. Baik berdasarkan lokasi produk, tipe penjual, metode pembayaran, opsi pengiriman, program promo, maupun batas harga. ‘Filter’ itulah yang disebut sebagai pengaturan berdasarkan taksonomi faceted.

3. Taksonomi Datar (Flat Taxonomy)

Taksonomi datar merupakan struktur menu berbentuk horizontal dimana semua konten diatur ke dalam kategori dengan tingkatan yang sama. Struktur seperti ini umumnya ditemukan pada website berskala kecil dengan konten yang berfokus pada satu niche.

Misalnya, website company profile yang biasanya hanya terdiri dari satu kategori menu tanpa sub kategori menu. Website-website seperti itu umumnya hanya memiliki menu tentang kami, kontak, dan blog.

Mengapa Taksonomi SEO Penting untuk Website?

  • Meningkatkan kualitas user experience – meningkatkan kegunaan situs dan memastikan pengguna menemukan informasi yang mereka cari.
  • Website lebih rapi dan terstruktur – memudahkan pemilik website dalam mengatur konten-konten yang ada berdasarkan jenis format, seperti video, berita, podcast, blog, dan lain sebagainya.
  • Arah komunikasi lebih baik – memudahkan user mendapatkan kontak pemilik website.
  • Meningkatkan SEO – pengaturan konten berdasarkan taksonomi yang relevan dapat memaksimalkan user experience, pencarian, dan fungsi navigasi di struktur website, sehingga mesin pencari lebih mudah membaca sesuai kaidah SEO.
  • Informasi mudah terbaca oleh robot sistem – search engine bekerja dengan crawler yang menelusuri halaman website melalui tautan dan struktur halaman. Robot tidak membaca konten, tetapi memahami pola, hubungan, dan hierarki antar halaman.

Contoh Penerapan Taksonomi SEO pada Website

Bagian kunci dari penerapan taksonomi SEO adalah pada pengelompokan topik yang jelas, hierarki terstruktur, dan URL semantik yang ringkas. Dengan demikian, konten dapat saling terhubung dan mesin pencari atau search engine bisa membaca pola dengan lebih mudah. Untuk mendapatkan ilustrasi yang jelas, perhatikan contoh berikut.

Taksonomi yang EfektifTaksonomi yang Tidak Efektif
https://example.com/kursus/seo-dasarhttps://example.com/2023/08/15/seo-dasar
https://example.com/kursus/seo/technical-seohttps://example.com/page?id=98231
https://example.com/elearning/bahasa/jawa/aksara-jawahttps://example.com/education/online/learning/course/bahasa/jawa/level1/modul2
https://example.com/layanan/web-developmenthttps://example.com/home/content/blog/article/seo/123

Mengapa kolom pertama dikatakan sebagai praktik taksonomi yang efektif? Hal ini dikarenakan URL mencerminkan topik dan struktur konten. Melalui URL tersebut, topik dapat langsung terbaca, seperti kursus, e-learning, dan SEO. Selain itu, URL tersebut juga memiliki hierarki yang jelas dan terbaca. Secara keseluruhan, URL berbentuk ringkas dan berbasis semantik.

Sementara kolom kedua dikatakan sebagai praktik taksonomi yang kurang efektif, karena URL tidak merepresentasikan topik. Ketika membaca URL, topik tidak jelas, tidak dapat terbaca, terlalu panjang, dan tidak bermakna. URL seperti itulah yang menyulitkan crawler dan user dalam memahami struktur konten.


Cara Menyusun Taksonomi SEO yang Baik

1. Riset Kata Kunci

Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menyusun taksonomi SEO adalah riset kata kunci. Tujuannya adalah mudah mengklasifikan konten-konten dalam situs web. 

Misalnya, website Anda berfokus pada konten-konten seputar kesehatan. Maka, Anda dapat mengklasifikasikan pembahasan menjadi, kesehatan mental, kesehatan fisik, dan gaya hidup sehat.

Dalam menentukan kata kunci, gunakan kata kunci yang familiar atau kata kunci yang berpotensi tinggi dimasukkan user ke dalam kolom kueri. Dengan demikian, kata kunci tersebut lebih mudah terbaca oleh mesin pencari.

2. Buat Struktur yang Simpel

Selanjutnya, buat struktur atau kategori dan subkategori yang simpel dan tidak terlalu banyak. Mengingat, semakin banyak kategori atau subkategori memungkinkan pengunjung bingung dengan opsi yang ada. Kebingungan ini pun berpotensi terjadi pada mesin pencari.

3. Kata Kunci Kategori dalam Metadata

Selain menggunakan kata kunci untuk kategori, gunakan juga kata kunci pada metadata, seperti diimplementasikan pada title tag, meta description, URL slug, dan lain sebagainya. Dengan demikian, crawler lebih cepat mengidentifikasi website, karena terbentuk pola.

4. Buat Taksonomi Fleksibel dengan Memberi Ruang untuk Kategori Baru

Dalam membentuk kategori website, penting untuk membuatnya fleksibel atau tidak terlalu spesifik. Hal ini memungkinkan Anda menambahkan kategori baru jika dibutuhkan. Misalnya, dibandingkan menggunakan taksonomi “produk perawatan badan Cetaphil,” sebaiknya gunakan kata “produk perawatan badan.”

5. Tambahkan Tautan dalam Konten-Konten yang Terdapat di Situs

Optimasi lain yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan tautan dalam konten, baik tautan internal maupun eksternal. Tautan internal adalah URL yang mengarah pada konten website Anda. sementara tautan eksternal adalah URL yang mengarah pada konten dalam situs lain.

6. Buat URL dengan Struktur Jelas

Dalam membuat URL, pastikan URL memiliki struktur dan hubungan semantik yang jelas. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan kategori atau subkategori di dalamnya. 

7. Pantau Lalu Lintas Taksonomi dan Peringkatnya di Mesin Pencari

Setelah melakukan keenam optimasi di atas, website masih perlu pemantauan dan penilaian lanjutan. Hal ini bisa dilakukan melalui pelacakan lalu lintas kata kunci dalam taksonomi menggunakan Google Analytic. Tujuannya adalah untuk mengetahui performa setiap kategori dan subkategori dalam menarik traffic. 

Misalnya, Anda menggunakan kategori sepatu olahraga. Kemudian Anda melakukan analisis kata kunci dan muncul istilah penelusuran baru, yakni sepatu olahraga pria. Kata kunci baru tersebut dapat dikembangkan menjadi sub kategori atau konten baru, sehingga informasi dalam website semakin kaya dan sesuai dengan apa yang dicari user.


Penutup

Taksonomi SEO bukan sekadar kerangka pengelompokan konten yang membuat website lebih rapi. Melainkan, bagian dari pondasi strategis untuk membantu mesin pencari memahami topik utama website. Sebab, mesin pencari tidak membaca konten, tetapi menganalisis pola, struktur, link, dan istilah semantik. 

Dengan implementasi taksonomi SEO yang tepat, website dapat terindeks dan ditampilkan di mesin pencari hingga mendatangkan traffic organik yang lebih stabil. Kendati demikian, proses implementasi tersebut membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Algoritma mesin pencari yang cepat berubah, membuat praktiknya butuh penyesuaian dan pemahaman teknis mendalam.

Sebagai langkah praktis, pemilik website tak perlu bingung. Sitespirit menghadirkan layanan jasa SEO yang dapat membantu Anda menarik lebih banyak traffic organik dan mengonversinya menjadi aksi nyata. Konsultasikan kebutuhan Anda sekarang dan hubungi kami kapanpun Anda siap.

Update Informasi Terbaru

Dapatkan pemberitahuan lebih cepat setiap minggu-nya dengan berlangganan artikel dari Sitespirit.

sitemap XML
GEO vs SEO
AI content SEO

Ikuti Update Informasi dari Sitespirit!

Cantumkan email Anda untuk mendapatkan informasi penawaran terbaik, update berita dan artikel, serta portofolio dari Sitespirit.